“eyang., nama lengkapnnya siapa..??” tanyaku dalam sebuah dialog dengan seorang ibu yang baru saja membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Subhanallah..,dengan sangat santun, beliau menceritakan perjalananya dalam mempelajari Al-Qur’an. Betapa tidak, 65 tahun adalah usia yang cukup renta untuk memulai belajar membaca firman Allah. Tapi, bagi ibu yang akrab disapa eyang sri ini, usia bukanlah halangan untuk mempelajari baca-tulis Al-Qur’an. Terbukti. Kesabaran yang panjang telah mengantarkannya mampu berdialog dengan sang pencipta alam semesta, melalui tilawah Al-Qur’an. Di usianya yang semakin renta, nenek dari empat cucu ini, menitip harapan serta doa. agar suatu saat nanti, beliau mendapatkan teman sebaya dalam belajar Al-Qur’an. Kesehatan serta waktu luang di usia sepuh, benar-benar ingin beliau manfaatkan. Ketika ditanya tentang harapan dan pesan beliau untuk yang belum mampu membaca Al-Qur’an, dengan santun beliau menjawab, “mudah-mudahan terbukalah hatinya, dan tergugah untuk mempelajari surat-surat yang ditturunkan dan diperuntukkan kepada kita ini”. teriring senyum, jawaban mulia itu beliau ucapkan. Semoga Allah memberkahi umur panjangnya, Amin..
Segala bentuk kemudahan tentunya hanya datang dari Allah. Perkenalannya dengan el-Taisiir adalah perantara serta awal kemudahan itu beliau rasakan. ya, el-Taisiir. Metode yang merubah rumitnya teori tajwid menjadi kemudahan yang menyenangkan. Untuk tilawah dengan tartil, ternyata tidak sesulit teori yang kita kenal selama ini. Al-hamdulillah, atas izin Allah, metode susunan Fahrurrozi naksi, Lc. ini, telah membantu para peserta, menguasai tilawah dengan tartil tanpa menghapal atau menguasai teori tajwid. Memang Unik, tapi sangat menarik.
Untuk para pembaca yang merasa kesulitan mempelajari Al-Qur’an, mari mencoba dan membuktikan kemudahan mempelajari firman Allah..
Ahlan Wa Sahlan
Selamat Bergabung Dalam Komunitas Para Pencinta Al-Qur'an
Tampilkan postingan dengan label Tahsin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahsin. Tampilkan semua postingan
Sabtu, April 24, 2010
Minggu, September 13, 2009
Kita Dan Al-Qur'an
بسم الله الرحمن الرحيم
Pengantar
”Kitab suci”. Kata yang sangat akrab di telinga umat Islam. Sebutan untuk Al-Qur'an. Ia mengandung makna pengagungan, penghormatan atau sebuah pengakuan tak terbantah bagi setiap mukmin. Al-Qur’an adalah ruh pembangkit semangat para pejuang. Penentram hati. Pelipur lara setiap jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Gambaran ini, kita temukan dalam sejarah para pejuang Islam zaman dahulu. Para sahabat, tabi'in atau tabi'ittabi'in. Generasi yang disebut Raslullah sebagai khoirul qurun. Sebaik-baik generasi. Mereka adalah "Qur'an-qur'an berjalan".
Empat belas abad silam, sejarah emas itu terukir. Menyisakan kebanggaan di hati umat Islam hari ini. Kebanggaan yang nyaris menjadi kenangan. Kenangan yang hanya tinggal kenangan.
Hari ini, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, nyaris hanya terdengar dalam acara resepsi pernikahan. Lantunannya selalu mengawali setiap acara seremonial umat Islam. Isra' mi'raj, maulid Nabi atau menyambut datangnya tahun baru hijriah. Interaksi umat Islam dengan Al-Qur'an hari ini, memberi makna yang berbeda. Kitab suci yang benar-benar dianggap "suci". Kesucian membuatnya tak disentuh sembarang orang. Yang membacanya pun hanya orang-orang tertentu. Tilawah Al-Qur'an seakan identik dengan remaja masjid, santri pondok pesantren, aktifis Rohis atau mereka yang dianggap faham agama. Menjelang hari H sebuah acara, panitia akan sibuk mencari dan menentukan siapa yang akan tilawah. Dari panitia, orang yang bersedia tanpa dibujuk atau harus mendatangkan seorang Qori dengan mengeluarkan biaya. Begitu sulitkah menemukan orang yang mampu membaca Al-Qur'an dengan benar dan enak didengar. Kenyataan yang berbanding terbalik dengan jumlah penduduk muslim negeri ini. Kesucian Al-Qur'an yang benar-benar "disucikan".
Risalah kenabian
Muhammad saw diangkat menjadi seorang Rasul setelah menerima wahyu Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an menjadi tanda risalah kenabian mulai diemban. Tegaknya hukum Islam dimuka bumi ditentukan sejauh mana isi Al-Qur'an diamalkan.. Kitapun dianggap seorang mukmin jika beriman kepada Al-Qur'an dan mau mempelajarinya.
Di samping penerapan isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, membaca Al-Qur'an Allah jadikan sebagai indikasi keimanan seseorang.
الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته أولــئك يؤمنون به ومن يكفربه فأولـئك هم الخاسرون. ( البقرة : 121).
121. Orang-orang yang Telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya [tidak merobah dan mentakwilkan Al Kitab sekehendak hatinya], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.
Husni syaikh utsman- dalam kitabnya, haqquttilawawah- memaparkan makna haqqa tilawah dalam ayat tersebut cukup rinci. Haqqa tilawah, sebenar-benar bacaan yang membutuhkan keterlibatan tiga hal dalam waktu bersamaan. Lisan berperan melafalkan huruf-huruf dengan benar, agar tidak merubah makna yang sebenarnya. Akal berperan menelaah dan memahami makna ayat yang sedang dibaca. Dan Hati berperan mengambil 'ibrah, nasehat serta hikmah dari setiap perintah atau larangan yang terkandung dalam Al-Qur'an.
Sebuah kewajiban.
Berbeda dengan koran, membaca Al-Qur'an memiliki aturan yang baku dan jelas. Allah tidak ingin Al-Qur'an dibaca seenaknya. Al-Qur'an harus dibaca sebagaimana ia diturunkan. Allah menginginkan Al-Qur'an dibaca dengan tartil. Dengan tegas Allah perintahkan kepada pembawa risalah dan semua pengikutnya, untuk membaca Al-Qur'an dengan teratur dan benar.
ورتل القرآن ترتيلا
Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil.
Tartil. Cara baca yang diajarkan Jibril as kepada Rasulullah saw. Cara baca yang merupakan sifat dan cara Allah berbicara dalam Al-Qur'an.
كذلك لنثبت به فؤادك ورتلنه ترتيلا
Demikianlah – kami turunkan Al-Qur'an berangsur-angsur – supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya secara tartil ( teratur dan benar ).
Tartil. Cara baca yang sering difahami keliru oleh sebagian umat Islam. Bacaan dengan suara indah mendayu, sesuai dengan standar lagu tertentu, atau bacaan yang lebih sering terdengar dalam Musabaqoh Tilawatil Qur'an ( MTQ ) di negeri ini. Sehingga, napas panjang dan keindahan suara menjadi tolak ukur benar tidaknya bacaan seseorang. Bacaan yang sekedar bacaan. Memasyarakatnya kaset-kaset rekaman para imam masjid di timur tengah, terkadang membuat sebagian umat Islam terpaku, lalu menjadikannya standar bacaan tartil. Berusaha meniru, tanpa pernah mempelajari cara baca yang sebenarnya dikatakan tartil.
Para sahabat pun bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra, tentang makna tartil dalam membaca Al-Qur'an. Sederhana namun penuh makana, beliau menjelaskan makna tartil, dengan mengatakan mengatakan :
تجويد الحروف ومعرفة الوقوف
Membaguskan cara melafalkan huruf dan mengetahui tempat waqof.
Bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan ribuan bahasa dunia. Melafalkan huruf-hurufnya tak semudah bahasa lain. Perubahan kecil dapat merubah makna begitu jauh. Dalam membaca Al-Qur'an, kesalahan yang sering dipandang remeh, dapat merubah makna keimanan menjadi kesyirikan atau pengagungan menjadi penghinaan.
Selain kefashihan melafalkan huruf dalam membaca Al-Qur'an, mengetahui tempat waqof atau pemenggalan kata, juga sangat menentukan benar tidaknya bacaan seseorang. Sebab kesalahan memenggal kata, dapat merubah makna yang sebenarnya.
Dakwah Islam bersama Al-Qur'an, kini menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ribuan, bahkan miliaran suku bersatu dalam aqidah yang sama. Keberagaman bangsa dan bahasa tak sedikitpun menjadi penghalang. Allah menyatukan hati setiap mukmin dalam penghambaan diri kepada-Nya. Demikian pula halnya dalam membaca Al-Qur'an.
Sejarah pembelajaran Al-Qur'an
Rasulullah saw. Membaca Al-Qur'an sebagaimana Jibril as mengajarkan kepada beliau. Lalu mengajarkannya kepada para sahabat, sesuai dengan apa yang beliau dengar dari Jibril as. Lalu beliau memperdengarkan kembali bacaan Al-Qur'an kepada Jibril setiap bulan Ramadhan tiba. Sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat mengajarkan Al-Qur'an kepada tabi'in. Lalu tabi'in mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Demikian Al-Qur'an diajarkan dari generasi ke generasi, hingga hari ini.
Rasulullah saw, para sahabat dan tabi'in membaca Al-Qur'an dengan fashih, karena mereka lahir dari keturunan bangsa arab asli. Sehingga kefashihan mereka berbahasa arab dan baca Al-Qur'an, merupakan bakat alami. Saat itu belum ada teori ilmu tajwid, kaidah tartil atau ilmu nahwu, apalagi lembaga khusus pembelajaran baca-tulis Al-Qur'an. Mereka mempelajari bacaan Al-Qur'an, cukup dengan mendengar. Al-Qur'an mereka baca sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menegaskan, bahwa Allah menginginkan Al-Qur'an dibaca sebagaimana ia diturunkan.
إن الله يحب أن يقرأ القرآن كما أنزل ( رواه ابن خزيمة هذا الحديث في صحيحه )
Sesungguhnya Allah mencintai pembacaan Al-Qur'an sebagaimana ia di turunkan. ( HSR. Ibnu khuzaimah ).
Dalam hadits lain Rasulullah saw juga berpesan :
اقرأواالقرآن بلحون العرب وأصواتها
Bacalah Al-Qur'an dengan lahjah arab dan suaranya.
Nash-nash hadits tersebut, menegaskan bahwa Al-Qur'an tetap harus bibaca dengan bahasa aslinya. Bahasa Arab. Keberagaman suku dan bahasa tak sedikitpun mendapat tempat dan menjadi pembenaran Al-Qur'an bisa dibaca dalam bahasa lain atau dibaca seenaknya. Sehingga tak mengherankan bila khalifah Umar Bin Khattab mengatakan :
تعلموا اللغة العربية فإنها جزء من دينكم
"Pelajarilah bahasa arab karena ia adalah bagian dari agama kalian".
Bagaimana dengan kita yang hidup empat belas abad sepeninggal Rasulullah saw..? bahasa kita bukan bahasa arab. Jangankan mengerti, untuk melafalkan huruf-hurufnya pun sangat jauh dari standar kefashihan. Meski demikian, kita tetap berhak disebut seorang mukmin. dengan mengemban kewajiban mempelajari Al-Qur'an.
Menyadari semua itu, akankah kita tetap merasa cukup dengan membaca Al-Qur'an bertuliskan huruf latin ..?? jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Allahu a’lam bish-shawab.
Pengantar
”Kitab suci”. Kata yang sangat akrab di telinga umat Islam. Sebutan untuk Al-Qur'an. Ia mengandung makna pengagungan, penghormatan atau sebuah pengakuan tak terbantah bagi setiap mukmin. Al-Qur’an adalah ruh pembangkit semangat para pejuang. Penentram hati. Pelipur lara setiap jiwa yang merindukan kebahagiaan.
Gambaran ini, kita temukan dalam sejarah para pejuang Islam zaman dahulu. Para sahabat, tabi'in atau tabi'ittabi'in. Generasi yang disebut Raslullah sebagai khoirul qurun. Sebaik-baik generasi. Mereka adalah "Qur'an-qur'an berjalan".
Empat belas abad silam, sejarah emas itu terukir. Menyisakan kebanggaan di hati umat Islam hari ini. Kebanggaan yang nyaris menjadi kenangan. Kenangan yang hanya tinggal kenangan.
Hari ini, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, nyaris hanya terdengar dalam acara resepsi pernikahan. Lantunannya selalu mengawali setiap acara seremonial umat Islam. Isra' mi'raj, maulid Nabi atau menyambut datangnya tahun baru hijriah. Interaksi umat Islam dengan Al-Qur'an hari ini, memberi makna yang berbeda. Kitab suci yang benar-benar dianggap "suci". Kesucian membuatnya tak disentuh sembarang orang. Yang membacanya pun hanya orang-orang tertentu. Tilawah Al-Qur'an seakan identik dengan remaja masjid, santri pondok pesantren, aktifis Rohis atau mereka yang dianggap faham agama. Menjelang hari H sebuah acara, panitia akan sibuk mencari dan menentukan siapa yang akan tilawah. Dari panitia, orang yang bersedia tanpa dibujuk atau harus mendatangkan seorang Qori dengan mengeluarkan biaya. Begitu sulitkah menemukan orang yang mampu membaca Al-Qur'an dengan benar dan enak didengar. Kenyataan yang berbanding terbalik dengan jumlah penduduk muslim negeri ini. Kesucian Al-Qur'an yang benar-benar "disucikan".
Risalah kenabian
Muhammad saw diangkat menjadi seorang Rasul setelah menerima wahyu Al-Qur'an. Turunnya Al-Qur'an menjadi tanda risalah kenabian mulai diemban. Tegaknya hukum Islam dimuka bumi ditentukan sejauh mana isi Al-Qur'an diamalkan.. Kitapun dianggap seorang mukmin jika beriman kepada Al-Qur'an dan mau mempelajarinya.
Di samping penerapan isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, membaca Al-Qur'an Allah jadikan sebagai indikasi keimanan seseorang.
الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته أولــئك يؤمنون به ومن يكفربه فأولـئك هم الخاسرون. ( البقرة : 121).
121. Orang-orang yang Telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya [tidak merobah dan mentakwilkan Al Kitab sekehendak hatinya], mereka itu beriman kepadanya. dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.
Husni syaikh utsman- dalam kitabnya, haqquttilawawah- memaparkan makna haqqa tilawah dalam ayat tersebut cukup rinci. Haqqa tilawah, sebenar-benar bacaan yang membutuhkan keterlibatan tiga hal dalam waktu bersamaan. Lisan berperan melafalkan huruf-huruf dengan benar, agar tidak merubah makna yang sebenarnya. Akal berperan menelaah dan memahami makna ayat yang sedang dibaca. Dan Hati berperan mengambil 'ibrah, nasehat serta hikmah dari setiap perintah atau larangan yang terkandung dalam Al-Qur'an.
Sebuah kewajiban.
Berbeda dengan koran, membaca Al-Qur'an memiliki aturan yang baku dan jelas. Allah tidak ingin Al-Qur'an dibaca seenaknya. Al-Qur'an harus dibaca sebagaimana ia diturunkan. Allah menginginkan Al-Qur'an dibaca dengan tartil. Dengan tegas Allah perintahkan kepada pembawa risalah dan semua pengikutnya, untuk membaca Al-Qur'an dengan teratur dan benar.
ورتل القرآن ترتيلا
Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil.
Tartil. Cara baca yang diajarkan Jibril as kepada Rasulullah saw. Cara baca yang merupakan sifat dan cara Allah berbicara dalam Al-Qur'an.
كذلك لنثبت به فؤادك ورتلنه ترتيلا
Demikianlah – kami turunkan Al-Qur'an berangsur-angsur – supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya secara tartil ( teratur dan benar ).
Tartil. Cara baca yang sering difahami keliru oleh sebagian umat Islam. Bacaan dengan suara indah mendayu, sesuai dengan standar lagu tertentu, atau bacaan yang lebih sering terdengar dalam Musabaqoh Tilawatil Qur'an ( MTQ ) di negeri ini. Sehingga, napas panjang dan keindahan suara menjadi tolak ukur benar tidaknya bacaan seseorang. Bacaan yang sekedar bacaan. Memasyarakatnya kaset-kaset rekaman para imam masjid di timur tengah, terkadang membuat sebagian umat Islam terpaku, lalu menjadikannya standar bacaan tartil. Berusaha meniru, tanpa pernah mempelajari cara baca yang sebenarnya dikatakan tartil.
Para sahabat pun bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra, tentang makna tartil dalam membaca Al-Qur'an. Sederhana namun penuh makana, beliau menjelaskan makna tartil, dengan mengatakan mengatakan :
تجويد الحروف ومعرفة الوقوف
Membaguskan cara melafalkan huruf dan mengetahui tempat waqof.
Bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan ribuan bahasa dunia. Melafalkan huruf-hurufnya tak semudah bahasa lain. Perubahan kecil dapat merubah makna begitu jauh. Dalam membaca Al-Qur'an, kesalahan yang sering dipandang remeh, dapat merubah makna keimanan menjadi kesyirikan atau pengagungan menjadi penghinaan.
Selain kefashihan melafalkan huruf dalam membaca Al-Qur'an, mengetahui tempat waqof atau pemenggalan kata, juga sangat menentukan benar tidaknya bacaan seseorang. Sebab kesalahan memenggal kata, dapat merubah makna yang sebenarnya.
Dakwah Islam bersama Al-Qur'an, kini menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ribuan, bahkan miliaran suku bersatu dalam aqidah yang sama. Keberagaman bangsa dan bahasa tak sedikitpun menjadi penghalang. Allah menyatukan hati setiap mukmin dalam penghambaan diri kepada-Nya. Demikian pula halnya dalam membaca Al-Qur'an.
Sejarah pembelajaran Al-Qur'an
Rasulullah saw. Membaca Al-Qur'an sebagaimana Jibril as mengajarkan kepada beliau. Lalu mengajarkannya kepada para sahabat, sesuai dengan apa yang beliau dengar dari Jibril as. Lalu beliau memperdengarkan kembali bacaan Al-Qur'an kepada Jibril setiap bulan Ramadhan tiba. Sepeninggal Rasulullah saw, para sahabat mengajarkan Al-Qur'an kepada tabi'in. Lalu tabi'in mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Demikian Al-Qur'an diajarkan dari generasi ke generasi, hingga hari ini.
Rasulullah saw, para sahabat dan tabi'in membaca Al-Qur'an dengan fashih, karena mereka lahir dari keturunan bangsa arab asli. Sehingga kefashihan mereka berbahasa arab dan baca Al-Qur'an, merupakan bakat alami. Saat itu belum ada teori ilmu tajwid, kaidah tartil atau ilmu nahwu, apalagi lembaga khusus pembelajaran baca-tulis Al-Qur'an. Mereka mempelajari bacaan Al-Qur'an, cukup dengan mendengar. Al-Qur'an mereka baca sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menegaskan, bahwa Allah menginginkan Al-Qur'an dibaca sebagaimana ia diturunkan.
إن الله يحب أن يقرأ القرآن كما أنزل ( رواه ابن خزيمة هذا الحديث في صحيحه )
Sesungguhnya Allah mencintai pembacaan Al-Qur'an sebagaimana ia di turunkan. ( HSR. Ibnu khuzaimah ).
Dalam hadits lain Rasulullah saw juga berpesan :
اقرأواالقرآن بلحون العرب وأصواتها
Bacalah Al-Qur'an dengan lahjah arab dan suaranya.
Nash-nash hadits tersebut, menegaskan bahwa Al-Qur'an tetap harus bibaca dengan bahasa aslinya. Bahasa Arab. Keberagaman suku dan bahasa tak sedikitpun mendapat tempat dan menjadi pembenaran Al-Qur'an bisa dibaca dalam bahasa lain atau dibaca seenaknya. Sehingga tak mengherankan bila khalifah Umar Bin Khattab mengatakan :
تعلموا اللغة العربية فإنها جزء من دينكم
"Pelajarilah bahasa arab karena ia adalah bagian dari agama kalian".
Bagaimana dengan kita yang hidup empat belas abad sepeninggal Rasulullah saw..? bahasa kita bukan bahasa arab. Jangankan mengerti, untuk melafalkan huruf-hurufnya pun sangat jauh dari standar kefashihan. Meski demikian, kita tetap berhak disebut seorang mukmin. dengan mengemban kewajiban mempelajari Al-Qur'an.
Menyadari semua itu, akankah kita tetap merasa cukup dengan membaca Al-Qur'an bertuliskan huruf latin ..?? jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Allahu a’lam bish-shawab.
Kamis, November 27, 2008
el-Taisiir, Wujud Nyata Kemudahan Al-Qur'an
Alhamdulillah, kalimat kesyukuran yang selalu terucap tidak akan pernah sebanding dengan limpahan nikmat Allah yang kita rasakan. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda Rasulullah 'alaihisshalatu wassalam, berikut keluarga, sahabat dan semua pengikut setia beliau, para penegak kebenaran, penerus perjuangan Islam.
saudaraku ..
Allah swt memberikan kemampuan dasar yang sama kepada setiap manusia untuk belajar. Allah benar-benar maha adil, ia menciptakan manusia dengan sempurna, sedangkan kelebihan dan kekurangan setiap individu harus dipahami dan dijadikan sebagai ajang untuk berlomba meraih kebaikan dengan saling melengkapi satu dengan yang lain.
Dengan kemurahan dan keadilan-Nya Allah swt mengutus kepada setiap generasi seorang nabi untuk membimbing dan mengajarkan tuntunan-tuntunan ilahiyah, agar terwujud kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Muhammad saw, adalah rasul terakhir, penutup para nabi dan rasul. Pesan beliau kepada kita, bahwa umat ini tidak akan sesat jika tetap berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-sunnah, dua warisan abadi sang penutup para nabi.
Dengan demikian, setiap insan yang mengaku beriman sudah seyogyanya mampu memahami dan membaca al-Qur’an. Karena turunnya al-Qur’an merupakan pertanda diangkatnya seorang Muhammad menjadi rasul. Islam akan dikatakan tegak jika al-Qur’an diamalkan. Dan setiap kita akan diakui sebagai seorang mukmin, jika berima kepada al-Qur’an dan mengamalkannya. Maka pertanyaan yang darus kita renungi adalah “wajarkah bila seorang mukmin tidak mampu membaca al-Qur’an..?”
Dengan kemurahan dan keadilan-Nya Allah swt mengutus kepada setiap generasi seorang nabi untuk membimbing dan mengajarkan tuntunan-tuntunan ilahiyah, agar terwujud kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Muhammad saw, adalah rasul terakhir, penutup para nabi dan rasul. Pesan beliau kepada kita, bahwa umat ini tidak akan sesat jika tetap berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-sunnah, dua warisan abadi sang penutup para nabi.
Dengan demikian, setiap insan yang mengaku beriman sudah seyogyanya mampu memahami dan membaca al-Qur’an. Karena turunnya al-Qur’an merupakan pertanda diangkatnya seorang Muhammad menjadi rasul. Islam akan dikatakan tegak jika al-Qur’an diamalkan. Dan setiap kita akan diakui sebagai seorang mukmin, jika berima kepada al-Qur’an dan mengamalkannya. Maka pertanyaan yang darus kita renungi adalah “wajarkah bila seorang mukmin tidak mampu membaca al-Qur’an..?”
saudaraku..
Geliat dakwah di negeri ini sudah cukup lama kita rasakan. Era tahun 90-an berbagai metode belajar baca-tulis al-Qur'an mulai dikenal secara luas di bumi nusantara ini. sebut saja misalnya, metode Qiroati, Iqro', al-Barqi, A Ba Ta, Itqon, Tsaqifa, Tilawati, al-Ummi, Utsmani dan masih banyak lagi belum kita kenal. Semua metode tersebut telah berusaha untuk mengemas materi Ilmu Tajwid dengan bahasa yang dapat dipahami. Alhamdulillah begitu banyak ummat Islam terbantu dalam mempelajari baca tulis al-Qur'an. Siapapun yang ingin tilawah al-Qur'an dengan tartil tentunya harus menguasai teori Ilmu Tajwid berikut istilah-istila hukum bacaan dengan huruf-huruf yang harus dihapalkan. Hal inilah yang seringkali membuat sebagian pemula merasa kesulitan, yang akhirnyaberdampak pada terputusnya proses belajar. Sementara itu, dalam setiap literatur Ilmu Tajwid selalu dijelaskan bahwa yang menjadi kewajiban 'aini (fardu 'ain) bagi setiap muslim adalah praktek membaca dengan benar (tartil), sedangkan penguasaan teori hanya menjadi kewajiban kifayah (fardu kifayah). Dari sini akan timbul satu pertanyaan ; "Akankah teori rumit Ilmu Tajwid menjadi penghalang bagi umat Islam untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil..??"
Saudaraku.., kekhawatiran itu tak perlu lagi menghantui..
Melengkapi satu bagian penentu sempurnanya keimanan setiap muslim, metode el-Taisiir hadir guna mempermudah proses belajar al-Qur’an yang selama ini dirasakan sulit oleh masyarakat muslim di negeri ini. Dan kami yakin, berapapun usia anda maka anda berpeluang mampu tilawah dengan tartil tanpa harus meguasai teori Ilmu Tajwid.
Insyaallah dengan metode el-Taisiir, teori tajwid yang rumit akan menjadi sangat mudah dan menyenangkan. Bukankah Allah telah menjanjikan kemudahan dalam mempelajari al-Qur’an ?
Langganan:
Postingan (Atom)
